Saham sektor perbankan diperkirakan masih memiliki prospek positif pada paruh kedua tahun 2026 meskipun pertumbuhan laba diproyeksikan tidak secepat periode sebelumnya.
Fundamental yang tetap solid, valuasi yang relatif murah, peluang perbaikan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM), pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee based income), serta potensi dividen yang tinggi menjadi faktor utama yang menopang prospek emiten perbankan.
Berdasarkan analisis tersebut, Samuel Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi buy untuk tiga saham bank berkapitalisasi besar, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Adapun target harga yang diberikan meliputi:
- BMRI: Rp5.800 per saham
- BBCA: Rp7.150 per saham
- BBNI: Rp4.700 per saham
Prospek Saham BMRI 2026
Samuel Sekuritas menilai normalisasi laba Bank Mandiri pada semester II 2026 telah tercermin dalam harga saham saat ini. Penurunan sementara margin bunga bersih diperkirakan mencapai titik terendah pada kuartal III 2026 sebelum kembali membaik, sementara kontribusi efisiensi operasional diperkirakan mulai melambat.
Meski demikian, valuasi BMRI dinilai masih menarik. Saham Bank Mandiri diperdagangkan pada kisaran 1,2 kali Price to Book Value (P/BV) 2026, level yang mendekati titik terendah sejak periode 2015–2016. Kondisi tersebut terjadi meskipun rasio kredit bermasalah (NPL) saat ini jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Kinerja BMRI juga didukung oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi yang terus meningkat. Pendapatan komisi berulang (recurring fee income) tumbuh sekitar 24 persen secara tahunan, didorong oleh semakin banyaknya pengguna aplikasi Livin’ by Mandiri yang telah mencapai sekitar 40,9 juta pengguna.
Selain itu, perseroan menargetkan pertumbuhan biaya operasional tetap terkendali sepanjang 2026 dan mulai meningkat sekitar 5 persen pada 2027. Dengan potensi dividend yield sekitar 9 persen, BMRI masih menjadi salah satu pilihan menarik bagi investor jangka panjang.
Prospek Saham BBCA 2026
Untuk BBCA, pertumbuhan laba diperkirakan tetap positif meski cenderung moderat pada semester II 2026. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya biaya operasional serta kenaikan biaya kredit (credit cost).
Manajemen BBCA memproyeksikan rasio biaya terhadap pendapatan (Cost to Income Ratio/CIR) berada di kisaran 31 persen sepanjang 2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan semester pertama. Di sisi lain, biaya kredit diperkirakan meningkat menuju 60 basis poin.
Walaupun demikian, prospek BBCA tetap kuat berkat peluang perbaikan margin bunga bersih. Penyaluran kredit baru pada kuartal II 2026 dilakukan dengan tingkat bunga yang lebih tinggi, sementara peningkatan imbal hasil kredit korporasi dan reinvestasi SRBI diperkirakan turut mendukung peningkatan NIM.
Samuel Sekuritas memperkirakan NIM BBCA dapat berada pada kisaran 5,5 hingga 5,9 persen, lebih tinggi dibandingkan target perusahaan yang berada di level 5,4 hingga 5,6 persen.
Dari sisi valuasi, saham BBCA diperdagangkan pada sekitar 2,5 kali P/BV 2026, mendekati level terendah dalam lebih dari satu dekade. Fundamental perusahaan juga tetap kuat dengan Return on Equity (ROE) sekitar 19,7 persen dan rasio dana murah (CASA) mencapai 84 persen, sehingga menjadikan BBCA sebagai salah satu bank dengan kinerja paling defensif di Indonesia.
Prospek Saham BBNI 2026
Berbeda dengan dua bank lainnya, BBNI masih menghadapi tantangan akibat tekanan terhadap margin bunga bersih. Manajemen menurunkan proyeksi NIM tahun 2026 menjadi 3,3 hingga 3,5 persen, dari sebelumnya 3,5 hingga 3,8 persen, seiring asumsi penarikan penuh penempatan dana SAL milik Kementerian Keuangan.
Meski demikian, pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) diperkirakan mampu mengimbangi tekanan tersebut. Hingga semester I 2026, PPOP BBNI tercatat tumbuh sekitar 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, perusahaan juga menargetkan pertumbuhan biaya operasional yang lebih efisien di kisaran 7 hingga 8 persen.
Dari sisi valuasi, BBNI dinilai paling murah di antara bank besar lainnya. Saham ini diperdagangkan pada sekitar 0,7 kali P/BV 2026, jauh di bawah rata-rata historis selama 10 tahun terakhir yang berada di kisaran 1,1 kali.
BBNI juga menawarkan dividend yield sekitar 7,4 persen, sementara biaya kredit (Cost of Credit/CoC) sebesar 1,1 persen dinilai lebih mencerminkan langkah antisipatif perusahaan dibandingkan penurunan kualitas aset.
Apakah Saham BMRI, BBCA, dan BBNI Masih Layak Dibeli?
Melihat kondisi fundamental yang tetap solid, valuasi yang relatif murah, serta potensi pertumbuhan kinerja pada semester II 2026, Samuel Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BMRI, BBCA, dan BBNI.
Ketiga emiten perbankan tersebut dinilai masih memiliki peluang kenaikan harga didukung oleh perbaikan margin bunga bersih, pertumbuhan pendapatan nonbunga, efisiensi operasional, serta potensi pembagian dividen yang menarik. Bagi investor yang mencari saham sektor perbankan dengan fundamental kuat, BMRI, BBCA, dan BBNI masih menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan.
Kesimpulan
Prospek saham perbankan besar seperti BMRI, BBCA, dan BBNI dinilai masih menjanjikan pada paruh kedua 2026 meskipun pertumbuhan laba diperkirakan lebih moderat.
Fundamental yang kuat, valuasi yang relatif murah, potensi perbaikan margin bunga bersih (NIM), pertumbuhan pendapatan berbasis komisi, serta dividend yield yang menarik menjadi alasan utama ketiga saham tersebut tetap direkomendasikan untuk dibeli.
Dengan target harga yang masih menunjukkan potensi kenaikan, BMRI, BBCA, dan BBNI dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin berinvestasi di sektor perbankan dengan prospek jangka menengah hingga panjang.









