Saham Nike (NKE) merosot 2,4 persen dalam perdagangan pra-pasar setelah mitra ritel grosir utamanya, Dick’s Sporting Goods, membukukan kinerja kuartal kedua yang berada di bawah ekspektasi Wall Street.
Penurunan saham Nike juga dipengaruhi oleh proyeksi tahunan Dick’s yang dipangkas cukup tajam. Perusahaan menyebut kondisi pasar alas kaki dan pakaian olahraga semakin menantang.
Lantas, mengapa saham Nike turun hari ini? Berikut sejumlah faktor yang menjadi perhatian investor.
Kinerja Dick’s Sporting Goods di Bawah Ekspektasi
Dick’s Sporting Goods melaporkan laba per saham (EPS) kuartal II sebesar US$3,53, lebih rendah dibandingkan estimasi analis sebesar US$3,78.
Pendapatan perusahaan juga tercatat US$5,59 miliar, berada di bawah konsensus Wall Street sebesar US$5,65 miliar.
Selain hasil kuartalan yang mengecewakan, Dick’s juga memangkas proyeksi EPS tahun fiskal 2027 menjadi kisaran US$11 hingga US$12. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan analis yang berada di level US$14,20.
Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi Nike karena Dick’s merupakan salah satu mitra distribusi grosir penting bagi produsen perlengkapan olahraga tersebut.
Pasar Alas Kaki dan Pakaian Olahraga Makin Menantang
Dick’s Sporting Goods menyebut persaingan promosi yang semakin agresif serta lemahnya peluncuran produk baru di segmen alas kaki olahraga menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja.
Penjualan comparable Foot Locker juga tercatat turun 3,6 persen selama kuartal tersebut.
Foot Locker kini berada di bawah Dick’s setelah perusahaan menyelesaikan akuisisi peritel tersebut pada tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat kinerja Dick’s dan Foot Locker menjadi semakin relevan terhadap prospek distribusi Nike di jaringan ritel.
Pemulihan Nike Dinilai Berjalan Lebih Lambat
Sentimen terhadap saham Nike juga mendapat tekanan dari dua laporan analis yang diterbitkan menjelang perdagangan.
Stifel mempertahankan rekomendasi Hold untuk saham Nike dengan target harga US$45 setelah melakukan survei back-to-school 2026.
Hasil survei menunjukkan Nike menjadi merek paling populer dalam 45,8 persen pengecekan ritel. Angka tersebut memang meningkat dibandingkan rekor terendah 38,2 persen pada 2025.
Namun, posisi tersebut masih jauh dari tingkat popularitas Nike yang pernah mencapai 92,5 persen pada 2021.
Data tersebut menunjukkan adanya perbaikan terhadap daya tarik merek Nike, tetapi pemulihannya belum kembali ke level sebelumnya.
RBC Pertahankan Target Harga Nike US$45
RBC Capital juga mempertahankan rating Sector Perform dan target harga Nike sebesar US$45 setelah melakukan pertemuan dengan CEO Nike Elliott Hill di London.
Menurut catatan RBC, proses eksekusi strategi pemulihan Nike membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan ekspektasi sebelumnya.
Lamanya waktu tunggu dalam industri serta dampak konflik Iran terhadap jalur pemulihan turut menjadi faktor yang diperhatikan dalam menilai prospek perusahaan.
Penurunan Nike Bukan karena Pasar AS Secara Umum
Pergerakan negatif saham Nike terjadi ketika pasar saham Amerika Serikat secara keseluruhan justru berada di zona positif.
Pada perdagangan tersebut, S&P 500 naik 0,4 persen, Nasdaq menguat 0,8 persen, sedangkan Dow Jones bertambah 0,4 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap saham Nike lebih berkaitan dengan faktor spesifik perusahaan dan sektor olahraga, bukan akibat aksi jual secara luas di pasar saham AS.
Dick’s Jadi Mitra Penting dalam Strategi Pemulihan Nike
Kinerja Dick’s memiliki arti penting bagi Nike karena perusahaan tersebut merupakan salah satu saluran distribusi grosir utama.
Nike sebelumnya terlalu bergantung pada model direct-to-consumer (DTC). Kini, perusahaan berupaya kembali memperkuat hubungan dengan mitra ritel untuk meningkatkan kehadirannya di pasar.
Karena itu, melemahnya kondisi pasar alas kaki olahraga dan kinerja mitra ritel seperti Dick’s dapat menjadi hambatan bagi upaya Nike dalam memulihkan penjualan.
Persediaan Dick’s Melonjak 63 Persen
Tekanan terhadap saham Nike semakin besar setelah Dick’s mencatatkan peningkatan persediaan hingga 63 persen setelah akuisisi Foot Locker.
Kombinasi antara tingginya persediaan, kondisi promosi yang lebih agresif, serta lemahnya peluncuran produk baru menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi pasar olahraga.
Situasi tersebut turut memperkuat kekhawatiran investor mengenai seberapa cepat Nike dapat kembali mencatatkan pertumbuhan yang lebih kuat.
Saham Nike Mendekati Batas Bawah Rentang 52 Minggu
Gabungan berbagai sentimen negatif tersebut membuat saham Nike bergerak mendekati batas bawah rentang perdagangan 52 minggunya.
Rentang harga saham Nike berada di sekitar US$38,86 hingga US$79,51. Pada perdagangan pra-pasar, saham NKE tercatat sekitar US$39,72, atau turun 2,53 persen dari penutupan sebelumnya.
Tekanan tersebut menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati terhadap prospek pemulihan Nike, terutama di tengah kondisi pasar alas kaki dan pakaian olahraga yang belum sepenuhnya membaik.
Prospek Saham Nike Masih Bergantung pada Pemulihan Bisnis
Pergerakan saham Nike ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan memperbaiki penjualan, memperkuat kembali jaringan distribusi, serta menghadirkan produk baru yang mampu menarik konsumen.
Di sisi lain, peningkatan popularitas Nike dalam survei back-to-school 2026 menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, investor masih perlu mencermati kecepatan eksekusi strategi manajemen dan perkembangan pasar olahraga sebelum menilai apakah pemulihan Nike dapat berlangsung sesuai harapan.









