Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, dibuka menguat. Penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap kondisi perekonomian global dan ketahanan sektor eksternal Indonesia.
Mengacu pada data Bloomberg, hingga pukul 09.42 WIB, kurs rupiah berada di level Rp17.814 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 83 poin atau sekitar 0,46 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.897 per dolar AS.
Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat berada di kisaran Rp17.908 per dolar AS.
Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah hari ini masih akan berlangsung fluktuatif. Meskipun dibuka menguat, rupiah diperkirakan berpotensi kembali mengalami pelemahan hingga akhir perdagangan.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.890 hingga Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Untuk perdagangan selama satu pekan ke depan, rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.780 hingga Rp18.020 per dolar AS.
Cadangan Devisa Indonesia Jadi Penopang Rupiah
Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang turut menopang pergerakan rupiah adalah kondisi cadangan devisa Indonesia yang masih berada pada level tinggi.
Pada akhir Juli 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$145,3 miliar. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan posisi pada akhir Juni 2026 yang mencapai US$145,6 miliar.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa perkembangan cadangan devisa pada Juli dipengaruhi oleh sejumlah transaksi pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah juga menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi posisi cadangan devisa pada periode tersebut.
Di sisi lain, cadangan devisa juga digunakan untuk memenuhi pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, Bank Indonesia terus melakukan kebijakan stabilisasi nilai tukar sebagai respons terhadap dinamika pasar keuangan global.
Dengan demikian, cadangan devisa pada akhir Juli 2026 hanya mengalami penurunan sekitar US$300 juta dibandingkan bulan sebelumnya.
Cadangan Devisa Cukup untuk 5,5 Bulan Impor
Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa sebesar US$145,3 miliar tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor.
Jika turut memperhitungkan kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah, cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi tersebut masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada di sekitar tiga bulan impor.
Bank Indonesia menilai kondisi cadangan devisa yang memadai dapat membantu memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia. Selain itu, posisi tersebut juga dinilai mampu mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
Prospek Rupiah dan Ekonomi Indonesia
Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan eksternal Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. Optimisme tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran modal asing ke dalam negeri.
Masuknya modal asing juga dipengaruhi oleh persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Imbal hasil investasi di dalam negeri juga dinilai masih menarik bagi investor.
Bank Indonesia bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan sektor eksternal.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Kurs rupiah hari ini, Senin 10 Agustus 2026, dibuka menguat ke level Rp17.814 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.42 WIB. Meski demikian, pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif dan berpotensi melemah hingga akhir perdagangan.
Kondisi cadangan devisa yang mencapai US$145,3 miliar menjadi salah satu faktor yang mendukung ketahanan eksternal Indonesia. Dengan cadangan devisa yang masih memadai dan potensi aliran modal asing, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan tetap terjaga.









